THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES
Tampilkan postingan dengan label nature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nature. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2009

alam Tuhan

Cahaya / Nur / Alam / Tuhan

Melalui pengkajian seorang ilmuan Islam iaitu Abu Ali Hasan Ibn Al-Haitham (965-c.1040) juga dikenali sebagai Alhazen mengasaskan teori umum yang menjelaskan tentang penglihatan. Dengan menggunakan geometri dan anatomi beliau menyatakan bahawa setiap titik pada kawasan yang disinari atau objek/jasad memancarkan sinaran cahaya ke semua arah. Pun begitu cuma satu sinaran dari setiap titik yang mengenai mata pada sudut tepat mampu dilihat. Beliau menganggap bahawa sinaran cahaya ialah arus zarah-zarah seni yang bergerak pada kelajuan terhad.

Teori Alhazen tersebut diperkuatkan lagi oleh Isaac Newton melaui cadangan dalam bukunya yang bertajuk Hypothesis of Light (1675). Beliau menjelaskan bahwa cahaya adalah terdiri daripada zarah halus (partikel jirim) yang mana memancar pada semua arah dari sumbernya. Teori cahaya ini terusan berovolusi sehingga muncul Teori Kembaran Zarah-Gelombang. Teori ini diterangkan oleh Albert Einstein pada awal 1900 berdasarkan hasil kerjanya berkenaan kesan fotoelektrik dan juga hasil kajian Planck. Teori di atas adalah hasil daripada penggabungan beberapa teori sebelumnya dimana ia mencadangkan bahawa cahaya adalah zarah dan gelombang.

Memetik dari sumber ilmiah atau eksplorasi sains di atas mendapati bahwa cahaya adalah satu gelombang yang merambat keluar dari sesuatu jasad yang mana kehadirannya dapat dikesan oleh mata seterusnya ditafsirkan oleh otak sebagai penampakan atau penglihatan.
Diperincikan lagi bahwa gelombang adalah satu makhluk yang mempunyai sifat pergerakan (perambatan), panjang atau jarak perambatan yang mewujudkan frekuensi. Sifat kepelbagaian panjang pada gelombang ini telah menghadirkan warna pada tafsiran otak. Ia dimulai dengan warna merah bagi panjang gelombang terpanjang (frekuensi paling rendah) hingga ke ungu bagi panjang gelombang terpendek (frekuensi paling tinggi). Frekuensi-frekuensi perantaraan pula dilihat sebagai jingga, kuning, hijau, biru dan secara konvensionalnya indigo.

Sebagai contoh kes; gelombang cahaya yang diterima oleh mata dari sekuntum mawar adalah gelombang cahaya yang berjenis panjang maka ditafsirkan oleh otak bahwa mawar bewarna merah dan sebaliknya bunga senduduk memancar gelombang bersifat pendek dan kerana itu pancaindera penglihatan kita menyatakan ia ungu!

Tambahan, frekuensi-frekuensi luar julat penglihatan manusia dikenali sebagai ultraungu (UV) pada penghujung frekuensi tinggi dan inframerah (IR) pada yang rendah dan manusia tidak dapat melihat IR namun kita dapat mengesannya melalui reseptor-reseptor kulit sebagai haba.

Secara dasarnya maujud alam ini disebabkan adanya CAHAYA dan bermulanya warna hasil dari perambatan gelombang CAHAYA.



:- Fokus-jurus ke paksi matra HAQIQI mazhab keTUHANan -:


“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nur : 35)

Difantasikan tafsir oleh diri yang kosong...

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”
- Bahwa alam ini keseluruhannya adalah cahaya yang berasal dari TUHAN yang mutlak.

“Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api)”
- Bahwa alam ini berasal dari KESEMPURNAAN CAHAYA yang TIDAK BERTEMPAT serta ESA SINARANNYA (yakni tiada bersangkutan).

“Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),”
- Bahwa isi alam ini terdiri dari semata-mata cahaya. Diri itu cahaya, tubuh itu cahaya, darah itu cahaya, organ itu cahaya, pacaindera itu cahaya, roh itu cahaya dan tiada lain melainkan cahaya.

“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki,”
- Bahwa pengetahuan/ilmu/tafsiran/minda itu hakikatnya adalah cahaya!

“Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”
- Dan TUHAN yang mutlak itu jualah yang menyusun keindahan fantasi pengcahayaan ini!




Atau mungkin diperBATU-ASASkan lagi perihal keagungan CAHAYA ini melalui sebuah firman TUHAN dalam sebuah Hadith Qudsi;
“Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya Zat-Ku”.

Dan diperterangkan oleh Rasullullah S.A.W. dalam hadith baginda;
“Yang pertama diciptakan oleh Allah ialah ruhku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah cahayaku. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah qalam. Dan yang pertama diciptakan oleh Allah ialah akal”.



"Maka kamu wahai alam adalah Nur yang datang dari Nur Muhammad yang datang dari Nur Allah yang datang dari ZAT MUTLAK."
JADI, DI MANAKAH DIRI? (yang kau martabatkan!)

alam hijau

green nature



Minggu 1 Juni 2008, bersama teman-teman BCC yang MABESnya dirumah Ko Rivan (samping kantor Nissan A.yani Km.4,5) Kita semua bersiap buat gowes sepeda ke gunung Kupang, lokasinya sekitaran Cempaka, Banjarbaru. Semua yang ikut gowes hari ini ber-sepuluh. Sebenarnya sih bersebelas, tetapi Papanya Ko Rivan buat hari ini standby dilokasi kita naruh boil aja.


Dengan tiga boil kita berangkat. Dalam perjalanan boil-nya Om Dodo dan Ko Rivan sempat nyasar ke Mandi angin. Untung dengan sinyal hape yang masih ada, kita masih bisa berhalo-halo, so gak terjadi tuch headline berita “Rombongan Sepeda Hilang” hehehe…


Nyampe di lokasi parkir boil, kita seperti biasa melakukan ritual nurunin sepeda, mompa ban n gak lupa nyemprotin pelumas yang dibawa Om Dodo kerantai sepeda masing2. Selain ritual tersebut juga bagikan bekal nasi bungkus, supaya gak kelaperan ditengah hutan hehehehe…(kemudian teman2 semua sibuk mengamankan nasi bungkusnya, ada yang masukin keransel, ada yang masukin kekantung plastik, bahkan sampe berlapis2 kantung plastiknya plus dengan ikatan tercanggih pada masing2 sepeda!).


Eng..ing..eng…dan perjalananpun dimulai…ke-sepuluh satria bersepeda mulai melaju dijalanan beraspal. Gak lama ngegowes, kita udah memasuki kaki gunung, yang jalannya masih primitif alias cuman beralas tanah plus batu2. Kondisi jalanpun mulai nanjak, meski gak terlalu ekstrim. Sambil terus beriringan kita makin nambah kecepatan ngegowes, supaya nggak kesiangan nyampe ke”villa”nya BCC. Dalam perjalanan kita juga ngelewatin perkampungan penduduk. Sepertinya masyarakat setempat udah biasa liat orang bersepeda, sehingga kehadiran kami tidak begitu menarik perhatian mereka hehehe…(ngapain juga , emang Fashion Show!!)


Masih di sekitar kampung. Jalanan yang kami lalui kali ini, ternyata banyak asesoris “ranjau” peninggalan kebo-kebo warga setempat. Akibatnya beberapa teman kita terpaksa ngeluarin jurus “ular” buat ngeliak-liuk bikin manuver anti ranjau darat . Dan sepanjang jalan, gak sedikit lho gerombolannya sikebo. Tampaknya mereka juga sibuk ngegosipin krisis BBM di Indonesia hehehehe… Lepas dari jalanan ber”ranjau”, sementara kita menyusuri jalan naik-turun yang kembali beraspal, nggak jauh sih, soalnya kemudian kita udah memasuki jalanan setapak kebun karet maupun dihutan. Wah kalo yang ini lumayan ijo alamnya, “Good for our eyes!”menurut aku. Jalan naik turun yang terus dilewati, juga nggak menghentikan aktivitas becanda teman2, sesekali ada yang teriak2 histeris minta stop..eh..gak taunya cuman buat foto-foto n nge”handycam” aja hahaha…busyeett!!


Perjalanan masih berlangsung dan medan yang dilewati udah macem2, ada yang nanjak-turun, aspal-berbatu lalu bertanah merah, kering hingga berair bahkan yang seperti kolam susu coklat juga ada. Diantara teman-teman bahkan sampe jatuh-bangun, ada yang oleng lalu jungkir balik kesemak-semak, ada yang karena pengen manuver “jumping” malah ngeglundung dijalan hahaha…pokoknya hueboh tenannnn!


Sebelum kita nyampe ke”Villa”. Sesaat abis “jumping” melewati empang kecil dan sempat terjatuh karena selip, rantainya Ko Rivan putus, lalu temen-temen dengan semangat 45, langsung ngeroyokin sepeda KHS putih itu, ngebantu nyambungin rantai…dan karena kebanyakan yang terlibat “rantainya koq, malah nggak sukses nyambung?” akhirnya satu persatu beranjak mundur dari aktivitas menyambung rantai. The last but not least…malah Ko Rivan sendiri yang sukses nyambungin rantai sepedanya.


Setelah melewati jalan berliku dengan macam2 kejadian heboh, kitapun tiba di”Villa” yaitu sebuah prototipe bangunan alami ramah lingkungan dengan ciri full AC dan bebas polusi, berlokasi ditengah padang rumput hijau pegunungan. Ditempat itulah akhirnya teman2 “menghabisi” menu makan siang nasi bungkus yang sedari tadi cuma nyantol disepeda hahaha... nyam…


Sambil bersantai kekenyangan di”villa” dan karena matahari udah semakin terik bersinar. Kami sepakat memutuskan pulang. “Next time, perjalanan ini akan diadakan lagi dengan rute yang lebih panjang” kata teman-teman. Sambil beriringan kamipun menggowes sepeda hingga sampai ketempat boil2 diparkir untuk selanjutnya kembali keBanjarmasin.


Thanks buat teman2 BCC untuk berbagi pengalamannya.

TEKNIK DASAR ALAM BEBAS



"Setiap tahun banyak sudah korban berjatuhan disetiap pendakian....takdirkah? atau karena
ulah manusianya sendiri?"



Berita duka datang silih berganti. Banyak rekan-rekan pendaki mengalami musibah maut dalam kegiatan alam bebas ini. Orang mungkin bisa saja mengatakan itu adalah 'takdir'. Ya...itu memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa, tapi manusia juga ikut menentukan takdirnya sendiri. Adakah yang salah?

Bila kita perhatikan gejala para pendaki lokal (memang tidak semuanya), mereka melakukan pendakian lebih banyak mengandalkan tenaga dan keberanian atau bisa dibilang nekat. Padahal dalam melakukan pendakian banyak hal yang perlu diperhatikan.

Itulah mengapa ada yang dinamakan Manajemen Perjalanan/Pendakian. Segala sesuatunya harus diatur dan dianalisa. Walupun kita hanya melakukan pendakian biasa bukan sebuah expedisi. Namun Manajemen Perjalanan harus tetap diterapkan. Bahkan hal-hal kecilpun harus dipikirkan.

Bila saja para pendaki memahami dasar-dasar manajemen perjalanan, maka akan semakin meminimalkal musibah dan korban kegiatan alam bebas ini. Kebanyakan korban yang jatuh akibat bahaya subjektif (dari diri sendiri). Ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang Manajemen Perjalanan dan teknik hidup di alam bebas.

Dan satu hal yang juga penting adalah menjaga ahlak kita, bagaimana kita bersikap terhadap alam, karena kadang faktor 'X' pun bisa menjadi sebabnya.


Perlengkapan Dasar

A. Perlengkapan Jalan (untuk medan gunung hutan)

1. Sepatu

* Mempunyai kegunaan sesuai dengan kebutuhan perjalanan.
* Sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki
* Harus kuat untuk pemakaian yang berat

Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu :

* Melindungi telapak kaki sampai mata kaki
* Kulit tebal, tidak mudah sobek
* Lunak bagian dalam, masih memberikan ruang bagi gerak kaki
*
Keras bagian depannya, untuk melindungi jari kaki (tidak dianjurkan memakai sepatu pekerja tambang, yang bagian depan sepatu sangat keras karena dilapisi dengan besi, selain berat juga akan merusak jari kaki jika ada perubahan suhu)
* Bentuk sol bawahnya harus dapat menggigit tanah ke segala arah dan cukup kuat.
* Ada lubang ventilasi, yang bersekat halus sehingga air dan udara lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.

2. Kaus Kaki
Yang perlu diperhatikan : menyerap keringat. Gunanya :

* Melindungi kulit kaki dari pergesekan dengan kulit sepatu.
* Menjaga agar kulit kita tetap dapat bernafas.
* Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah yang dingin.

3. Celana Jalan
Yang perlu diperhatikan :

* Kuat, lembut
* Ringan
* Tidak mengganggu gerakan kaki, jahitannya cukup longgar
* Praktis
* Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
* Mudah kering, bila basah tidak menambah berat
Bahan celana yang terbuat dari katun cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan duri, mudah kering.

4. Baju Jalan
Yang perlu diperhatikan :

* Melindungi tubuh dari kondisi seikitar
* Kuat
* Ringan
* Tidak mengganggu pergerakan
* Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
* Praktis
* Mudah kering

5. Topi Lapangan
Yang perlu diperhatikan :

* Melindungi kepala dari kemungkinan akibat duri
* Melindungi kepala dari hujan, terutama kepala bagian belakang.
* Harus kuat dan tidak mudah robek, untuk medan gunung hutan dianjurkan memakai topi rimba atau semacam topi Jepang.

6. Sarung Lapangan
Yang perlu diperhatikan :

* Sebaiknya terbuat dari kulit
* Bentuknya sesuai dengan tangan kita
* Tidak kaku, artinya tidak menghalangi gerakan tangan.

7. Ikat Pinggang
Pilihlah yang terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala yang tidak terlalu besar tetapi teguh. Selain menjaga agar celana tidak kendur, juga untuk meletakan alat-alat yang perlu cepat dijangkau seperti pisau pinggang, tempat air minum, tempat alat-alat P3K, dll.

8. Ransel / Carrier

*
Ringan, Sejauh mungkin tidak merupakan tambahan beban yang berlebihan, terbuat dari bahan yang water proof.
*
Kuat, harus mampu membawa beban dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, zippernya cukup kokoh, dsb.
*
Nyaman dipakai, dianjurkan agar memakai ransel yang mempunyai rangka, agar berat beban merata dan seimbang. Selain itu juga membuat kenyamanan karena adanya ventilasi antara tubuh/punggung dengan ransel.
*
Praktis, kantung-kantung tambahan serta pembagian ruangan akan memudahkan untuk mengambil barang-barang tertentu.

9. Peralatan navigasi
- Kompas, peta, penggaris segitiga, busur derajat, pensil, dll.

10. Lampu Senter

* Dengan bola lampu dan baterai cadangan

11. Peluit

12. Pisau

* Pisau saku serbaguna (multi blade) seperti Victorinox
* Pisau pinggang
* Golok tebas

B. Peralatan Tidur

* Satu set pakaian tidur
* Kaus kaki untuk tidur
* Sleeping bag
* Matras
* Tenda/ponco/flysheet untuk bivak


C. Perlengkapan Masak dan Makan

* Alat-alat makan
* Alat pembuat api (lilin, spirtus, dll)
* Kantung air / tempat air

Menyusun Perlengkapan Kedalam Ransel/carrier (Packing)

Nyaman, efisien, selain secara langsung ditentukan oleh desain ransel, juga banyak dipengaruhi cara menyusun barang (packing) kedalam ransel.

*
Tempatkanlah barang-barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan. Barang-barang yang relatif lebih ringan (sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan dibagian bawah.
*
Letakkan barang yang sewaktu-waktu diperlukan diletakkan dibagian atas atau diletakkan dikantung-kantung luar ransel (ponco, P3K, kamera, dll).
*
Kelompokan barang-barang dan masukkan kedalam kantung-kantung plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur / cadangan, pakaian dalam, buku-buku, dll.


Perencanaan Perbekalan

Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

1. Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
2. Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
3. Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal, sering hujan, dsb)

Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perjalanan:
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d. Ringan, mudah didapat
e. Murah


Untuk dapat merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat-syarat diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah-langkah berikut :

1.
Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan kondisi medan, aktifitas tubuh yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan jumlah kalori yang diperlukan.
2.
Susun daftar makanan yang memenuhi syarat diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi dominan. Hidrat arang, ptotein, lemak, hitung masing-masing kalori totalnya (setelah siap dimakan).
3.
Perhitungan untuk vitamin dan mineral dapat dilakukan terakhir, dan apabila ada kekurangan dapat ditambah tablet vitamin dan mineral secukupnya.


Bahaya di Pegunungan


Bahaya di pegunungan dibedakan menjadi :

a. Bahaya subyektif, disebabkan oleh orang yang mendaki gunung sendiri.
b. Bahaya obyektif, disebabkan oleh gunung atau lapangan/alam itu sendiri.

Dalam praktek tidak mungkin mengadakan perbedaan eksas (pasti), karena banyak terjadi bahaya yang obyektif dibandingkan dengan bahaya subyektif, apabila orang melakukan kesalahan dan tidak ingat akan bahaya tersebut.

Barangsiapa sebelumnya mengetahui bahaya-bahaya yang obyektif seperti :
1. Kejatuhan batu
2. daerah-daerah yang berbahaya
3. petir
4. kabut
5. udara yang mendadak menjadi buruk

Maka dia akan dapat menghindari (tidak tentu) bahaya-bahaya tersebut.
Barangsiapa pada waktu akan terjadi bahaya, dengan cepat dan dengan cara yang benar menghindarkan diri dari bahaya-bahaya tersebut, ada harapan untuk hidup lama di pegunungan.

Bahaya-bahaya yang subyektif seperti :
1. keadaan atau lemah badan dari orang yang akan mendaki
2. pengetahuan dan pengalaman yang kurang merupakan unsur-unsur yang lebih rumit.

Dorongan hati untuk pegang peranan dan penyakit ingin dihormati oleh sesama orang, untuk menggantikan prestasi orang lain, membuat orang menjadi buta dan akan memiliki nasib yang tidak baik dipegunungan. Orang yang menderita tekanan jiwa, tidak boleh mendaki gunung. Perjalanan ke gunung yang sunyi dapat menimbulkan keajaiban.

a. Batu yang jatuh dari gunung, merupakan ancaman bahaya besar.

Hembusan angin yang kuat, hujan angin, menyebabkan batu-batu tersebut berjatuhan. Juga orang dan binatang, dapat menyebabkan batu-batu berjatuhan.
Pada masa sekarang ini dimana banyak perjalanan dilakukan di pegunungan, batu-batu yang berjatuhan, disebabkan oleh pendaki gunung yang kurang hati-hati, merupakan salah satu bahaya yang terpenting di pegunungan.
Pada batu karang yang banyak mengandung batu-batu lepas, merupakan bahaya yang lebih besar dari pada batu karang yang mengandung batu-batu tetap. Puing-puing yang banyak pada batu karang dan parit-parit yang sempit serta dalam, merupakan saksi dari batu-batu yang jatuh. Karena batu-batu yang jatuh itu disebabkan oleh belahan, parit-parit yang sempit dan dalam di tempat-tempat dan dalam di tempat-tempat tertentu, maka di tempat tersebut terjadilah bahaya yang lebih besar.

b. Apa yang kita kerjakan kalau ada petir?

Tempat-tempat khusus yang berbahaya bagi petir adalah :

1. Tempat-tempat yang menonjol sperti : puncak, salib pada gunung, batu karang yang menonjol, pohon-pohonan, sungai-sungai. Batu karang pada umumnya lebih berbahaya daripada salju. Pada cuaca buruk, segera tinggalkan tempat-tempat tersebut.
2. Segi tiga pada batu karang.

Perlindungan yang terbaik dari sambaran petir ialah : mengurungkan untuk berjalan atau lebih awal pulang.
Cuaca buruk jarang datang pada siang hari atau pada pagi hari. Pada waktu ada petir segera jongkok, duduk di atas tanah atau duduk diatas ransel atau tali yang sedang digulungkan dan menunggu sampai petir hilang.
Jangan sekali-kali bersembunyi dalam gua, imbang/bersender pada dinding.
Tempat-tempat itu sangat berbahaya, karena tanah yang meledak dan emosi. Kran air, kawat baja dan kawat berduri jangan sampai di sambar petir. Meskipun itu tidak secara langsung menarik logam, tetapi mengalirkan listrik (penghantar yang baik).

c. K a b u t

Kabut menimbulkan persoalan pada waktu kita mencari keterangan tentang tempat yang akan kita datangi. Kita harus membawa peta, kompas, meteran untuk mengukur tekanan udara. Pada waktu ada kabut tebal, kita harus percaya pada alat-alat kita itu.

d. Udara mendadak menjadi buruk

Keadaan udara yang mendadak menjadi buruk di pegunungan, harus mendapat perhatian yang serius. Pada perjalanan yang berat, kita mengambil resiko (kesempatan yang berbahaya) tentang udara yang mendadak menjadi buruk. Untuk perjalanan semacam itu, sebaiknya, menunggu cuaca yang baik.
Menunggu yang sabar, pada waktu pulang, keberanian, kewaspadaan dan perasaan bertanggung jawab, merupakan syarat bagi pendaki gunung.
Tanpa pertimbangan, begitu saja melakukan perjalanan, tidak lain hanya merupakan kebodohan saja. Barang siapa tidak mengenal bahaya, akan mejadi berani.








nature from god

Alam di luar bumi dan atmosfernya

Peristiwa dan fenomena di luar bumi dan atmosfernya ialah dalam ilmu alam astronomi.

Kehidupan


Kehidupan, karakteristik dan tingkah laku organisme, bagaimana spesies dan individu menjadi ada, dan interaksinya satu sama lain dan dengan lingkungannya seluruhnya dalam ilmu alam biologi.

Kimia

Struktur, sifat, komposisi, dan reaksi unsur dan senyawa kimia ialah bagian ilmu alam kimia.

Materi dan gaya


Tingkah laku dan interaksi materi dan gaya ialah bagian ilmu alam fisika.

Bumi


Segala sesuatu yang berkaitan dengan planet bumi ialah bagian ilmu bumi.

Supranatural

Artikel utama: Supranatural

Kebanyakan orang percaya dalam adanya dunia nonmateri dalam pandangan melebihi yang dari hanya pengalaman batin. Mereka lebih percaya dalam badan supranatural dan dalam kenyataan supranatural yang sama sekali berbeda dengan dunia alam. Jika sebagaimana sebuah realitas ada, banyak ilmuwan dan lainnya menegaskan bahwa itu melewati pencapaian ilmiah. Sains telah sangat berhasil dalam membawa yang rupanya tak dapat dipahami dan menurut dugaan fenomena supranatural dalam jangkauannya.

Metafisika

Dalam filsafat, pandangan bahwa dunia materi atom, hewan, gravitasi, bintang, angin, kuman, dsb, sesungguhnya ada secara independen dari pengamatan kita yang disebut realisme; pandangan yang bertentangan disebut idealisme.

Alami dan artifisial



Perbedaan sering digambarkan antara "alami" dan "artifisial" (="buatan tangan"). Dapatkah perbedaan ini dibenarkan? Sebuah pendekatan ialah untuk mengeluarkan pikiran dari alam natural; lainnya ialah untuk tak hanya mengeluarkan pikiran, namun juga manusia dan pengaruh mereka. Dalam kasus lain, batas antara alami dan artifisial sulit digambarkan. Beberapa orang percaya lebih baik masalah dihindari dengan mengatakan bahwa segala sesuatu itu alami, namun berbuat sedikit untuk menjelaskan konsep "artifisial". Dalam tiap peristiwa, ambiguitas tentang perbedaan antara alami dan artifisial menggerakkan banyak seni, sastra dan filsafat.

Pendekatan lain ialah untuk membedakan proses alamiah dan proses artifisial (buatan tangan). Dalam sudut pandang ini, suatu proses dianggap terjadi pada behest manusia, atau tidak. Sebagai contoh, menekan sakelar lampu barangkali menerangi ruangan, atau barangkali matahari terbit menerangi ruangan. Dalam sudut pandang ini, matahari terbit akan disebut sebagai proses alamiah; keputusan manusia untuk menekan sakelar lampu akan disebut sebagai penerangan buatan, dalam perbandingan. Dalam sudut pandang ini, kecerdasan (seni atau sastra) terang merupakan akibat perbuatan manusia yang disengaja; lebih lanjut, perbuatan menetapkan kedudukan filosofi dapat juga merupakan tindakan yang disengaja (dan karenanya pada behest manusia), apakah atau tidak muatan filsafat ialah untuk menjadi tentang sains.

alam

Alam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Alam ialah seluruh zat dan energi, khususnya dalam bentuk esensinya. Alam ialah mata pelajaran studi ilmiah. Dalam skala, "alam" termasuk segala sesuatu dari semesta pada subatom. Ini termasuk seluruh hal binatang, tanaman, dan mineral; seluruh sumber daya alam dan peristiwa (hurrikan, tornado, gempa bumi). Juga termasuk perilaku binatang hidup, dan proses yang dihubungkan dengan benda mati.